Your browser (Internet Explorer 6) is out of date. It has known security flaws and may not display all features of this and other websites. Learn how to update your browser.
X
Images

Revolusi Mental

Pada saat debat capres putaran kedua, ada satu hal yang diutarakan oleh Jokowi yaitu Revolusi Mental. Beliau juga mengatakan bahwa pendidikan SD akan diberikan 80% tentang etika, moral, akhlak dan 20% sisanya ilmu pengetahuan seperti matematika, IPA, dll.

Seorang guru di Australia pernah berkata: “Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Di Indonesia itu justru merupakan hal yang sebaliknya. Lalu guru tersebut kemudian menjelaskan pernyataannya. Inilah jawabannya:

  1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
  2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka akan menjadi penari, atlet olimpiade, penyanyi, musisi, pelukis dsb.
  3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi dibidang yang berhubungan dengan matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan etika, moral dan pelajaran berharga dari mengantri disepanjang hidup mereka kelak.

revolusi mental

Lalu apa manfaatnya dari anak-anak sekolah dasar jika diberi pelajaran mengantri setiap hari? Ternyata ada banyak pelajaran yang dapat didapatkan ketika mereka sedang mengantri. Guru tersebut menjawab :

  1. Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
  2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia diantrian paling belakang.
  3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.
  4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
  5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
  6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
  8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
  9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
  10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
  11. Anak belajar bekerjasama dengan teman-teman yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
  12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Jika kita melihat penjelasan dari seorang guru di Australia (Negara Maju) tersebut, kita pasti menyadari bahwa moral dan etika tersebutlah yang harus ditanam pada calon generasi penerus bangsa selanjutnya. Jokowi juga sudah menyadari akan hal ini dan akan mengaplikasikannya jika beliau terpilih menjadi Presiden Indonesia selanjutnya.

Namun proses perubahan kurikulum ini pasti tidak akan berjalan dengan mudah. Ada sebuah proses perubahan yang harus dilalui. Generasi penerus bangsa Indonesia kedepannya akan merasakan “buah yang manis” jika hal ini dilakukan dengan baik. SDM Indonesia akan mempunyai mental yang kuat, santun, beretika, bermoral yang tentu saja akan mengubah masa depan bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi.

VH

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment